Senin, 01 Februari 2010

Peran Orang Tua Dalam Membangkitkan Potensi Anak

Perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun, sehingga hampir 50 persen potensi kecerdasan anak sudah terbentuk pada usia empat tahun. Kemudian secara bertahap mencapai 80 persen pada usia delapan tahun. Kreativitas anak mulai meningkat pada usia tiga taun dan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Kreativitas anak akan menurun apabila tidak diupayakan perkembangan potensi kecerdasannya. Data-data ini merupakan hasil penelitian ahli perkembangan anak dari Universitas Georgia Amerika Serikat, Dr.Keith Osborn.
Pakar psikologi anak Dr Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto juga menyatakan bahwa usia balita merupakan masa penting bagi perkembangan potensi seseorang, termasuk rasa percaya dirinya. Perkembangan potensi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, karena anak akan dengan cepat menirukan dan belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Dengan demikian merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing keluar potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri.Disamping itu orangtua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap..
Pada masa-masa penting pertumbuhan tersebut, anak memerlukan asupan makanan bergizi yang cukup, disertai kasih sayang dan perhatian orang tua . Kesemuanya ini berguna untuk akan menunjang pertumbuhan otak dan cara berpikir anak. Dari hasil penelitian, ternyata kecerdasan anak tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dirangsang. Misal, untuk mengembangkan kemampuan berbahasa pada seorang anak, misalnya, maka orang tua harus rajin menjalin percakapan dengan sang anak. Saat anak masih bayi, tetaplah mengajaknya berbicara dengan suara yang halus, meski anak belum mengerti.
Menurut pendapat Kak Seto, anak dapat dirangsang untuk mengembangkan daya imajinasinya, dengan mendengarkan dongeng dari ibunya. Misalnya, dari dongeng yang didengar, anak akan membayangkan peri cantik yang baik hati atau kancil yang cerdik. Kemudian secara tidak langsung anak juga dapat diajak untuk melontarkan gagasannya pada satu masalah. Orang tua perlu membiasakan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, khususnya menyangkut kepentingan dirinya sendiri, misalnya menentukan makanan dan pakaian yang disukai, serta mengajak anak untuk mengomentari berbagai peristiwa, akan memacu anak untuk terus berpikir mengembangkan gagasannya.
Sejak usia dini , anak juga sudah dapat diperkenalkan pada kegiatan membaca dan menulis. Misalnya dengan cara membuat tulisan nama benda pada karton dan menempelkan tulisan tersebut pada benda yang dimaksud. Ini dapat merangsang daya ingat anak terhadap benda tersebut sekaligus memperkenalkan anak akan bentuk huruf dan tulisan. Untuk memacu kemampuan dasar matematika, anak dapat diperkenalkan pada konsep matematika secara sederhana, misalnya menghitung jumlah anak tangga, menghitung panjang meja dengan jengkal si anak, mengukur tinggi dan berat badannya sendiri.
Kegiatan dalam mengembangkan potensi kecerdasan anak hendaknya dilakukan dengan cara bermain, sehingga anak merasakan sebagai kreativitas yang menyenangkan. Jangan sampai anak merasa dipaksa harus belajar menulis, membaca, dan belajar berhitung. Orang tua harus dapat menciptakan suasana bermain yang dapat menumbuhkan hasrat ingin tahu yang besar serta kemampuan logika yang baik. Selain itu , anak harus dapat perasaannya dengan bebas, seperti rasa marah, sedih, takut, dan kecewa dalam keadaan wajar. Orangtua harus dapat berperan sebagai teman serta mendengarkannya, bukan justru semakin menyudutkan sang anak.
Peran orangtua yang berkualitas dalam mengembangkan kecerdasan dan perkembangan emosi anak secara bertahap, akan mendorong potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya…..
Peran orangtua pada dasarnya anak-anak sebagai generasi unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka tumbuh dengan optimal.
Orang tua memegang peranan penting menciptakan lingkungan tersebut guna memotivasi anak agar dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.
Ini semua dapat dimulai sejak masa bayi. Suasana yang penuh kasih sayang, mau menerima anak apa adanya, menghargai potensi anak, memberi rangsang-rangsang yang kaya untuk segala aspek perkembangan anak, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, semua merupakan jawaban nyata bagi tumbuhnya generasi unggul dimasa datang.
Memahami anak keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satusama lain namunsalingmelengkapidanberharga.Selain memahami bahwa anak merupakan individu yan unik, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya memahami anak,yaitu bahwa anak adalah: anak bukan orang dewasa,anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini.
Mereka juga memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Untuk itu dalam menghadapi mereka dibutuhkan adanya kesabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam.Dunia bermain mereka adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh semangat apabila terkaitdenganpenuhsuasanayangmenyenangkan.
Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologis.Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri-cirimasing-masingfaseperkembangantersebut.
SenangMeniru
Anak-anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru. Orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.
Kreatif
Anak-anak pada dasarnya adalah kreatif. Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif, misalnya rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya imajinasi tinggi, dan sebagainya. Namun begitu anak masuk sekolah, kreativitas anak pun semakin menurun. Hal ini sering disebabkan karena pengajaran di TK atau SD terlalu menekankan pada cara berfikir konvergen, sementara cara berfikir secara divergen kurang dirangsang. Orang tua dan guru perlu memahami kreativitas yang ada pada diri anak-anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula, hendaknya tidak selalu memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak namun secara rendah hati mau menerima gagasan-gagasan anak yang mungkin tampak aneh dan tak lazim. Anak-anak yang dihargai cenderung terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang lebih optimal.
Mengembangkankecerdasandankreativitas
Menyadari akan arti pentingnya orang tua bagi pengembangan kecerdasan dan kreativitas anak, maka sangat dianjurkan kepada setiap orang tua untuk meluangkan waktu secara teratur bagi putra-putrinya untuk mengembangkan kemampuan bahasa misalnya, biasakan agar orang tua rajin menjalin percakapan dengan si kecil. Ajaklah berdialog dan berilah kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya, sedangkan untuk mengembangkan kemampuan dasar matematika anak dapat diperkenalkan konsep matematika secara sederhana, misalnya menghitung jumlah anak tangga. Sementara untuk memuaskan kebutuhan ilmiahnya, anak bisa diajak menjelajahi dunianya dengan cara melakukan eksperimen, misalnya mengamati tumbuhnya kecambah, proses telur yang menetas dan sebagainya. Kaitkan semua kegiatan diatas sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan dan selalu ditunggu oleh anak. Ini adalah hal-hal yang merangsang pengembangan kecerdasan anak. Banyak dijumpai anak-anak yang memiliki kecerdasan dan kreativitas luar biasa adalah anak-anak yang memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tuanya. Orang tua John Irving misalnya, menghabiskan waktu berjam-jam bermain dan terlibat secara intelektual bersama John setiap hari, sehingga akhirnya ia menjadi penuis ternama. Begitu pula orang tua Steven Spielberg, tak jemu-jemunya berdialog dan melayani aneka pertanyaan serta rasa ingin tahu Steven, sehingga akhirnya ia menjadi sutradara film terkenal. Tak terkecuali orang tua Thomas Alva Edison memegang peranan penting bagi perkembangannya sehingga ia menjadi seorang penemu ulung.
Rumah yang menunjang kreativitas adalah rumah dimana anak dan orang dewasa yang berada didalamnya terlibat dalam kebiasan kreatif. Aktivitas mendongeng atau membacakan cerita sangat bersemangat untuk merangsang kecerdasan maupun kreativitas anak. Melalui dongeng, anak juga dapat diajak berkomunikasi serta mencoba untuk melontarkan suatu gagasan terhadap pemecahan suatu masalah. Dan melalui dialog batin si kecil dengan dongeng-dongeng yang didengarnya itu, tanpa sadar mereka telah menyerap beberapa sifat positif, sperti keberanian, kejujuran, kehormatan diri, memiliki cita-cita, menyayangi binatang, membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk, dan seterusnya.
Mengembangkan kecerdasan emosional.
Beberapa ahli mengatakan bahwa generasi sekarang cenderung banyak mengalami kesulitan emosional, seperti misalnya mudah merasa kesepian dan pemurung, mudah cemas, mudah bertindak agresif, kurang menghargai sopansantun dan sebagainya, kecerdasan atau angka IQ yang tinggi bukanlah satu-satunya jaminan kesuksesan anak di masa depan. Ada faktor lain yang cukup populer yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini dapat dilatih pada anak-anak sejak usia dini. Salah satu aspeknya adalah kecerdasan sosial, dimana anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain serta bertindak bijaksaadalam hubungan antar manusia. Suasana damai dan penuh kasih sayang dalam keluarga, sikap saling menghargai, disiplin dan penuh semangat tidak mudah putus asa, semua ini memungkinkan anak untuk mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan emosionalnya…………….

Usaia balita adalah periode emas pertumbuhan. Saat itu otak tumbuh pesat dan siap diisi dengan berbagai pelajaran dan pengalaman. Orangtua hendaknya memanfaatkan untuk mengembangkan potensinya.

Penelitian menunjukkan usia balita adalah masa windows of opportunity. Pada masa ini, otak bayi bagaikan spons yang dapat menyerap cairan. Agar dapat menyerap, spons tersebut tentunya harus ditempatkan dalam air. Air inilah yang diumpamakan sebagai pengalaman. Di sinilah letak peranan orangtua yang bertugas memberikan pengalaman kepada anakanak dan mengenalkan mereka pada aktivitas yang diminatinya.
”Jika sejak bayi distimulasi dengan berbagai rangsangan, otak kecilnya pun akan menyerap,” ujar psikolog Rose Mini. Rose mencontohkan kemampuan bicara, jika tidak sering dirangsang, maka anak akan mengalami keterlambatan berbicara, termasuk kemampuan berjalan. Namun, jika anak intens diajak berbicara atau menyanyi, kemampuan verbalnya pun akan terstimulasi dengan baik.

Pengalaman konkret adalah yang dibutuhkan anak dengan usia ini. Namun, perempuan yang sering disapa Bunda Romi ini mengingatkan, tidak berarti anak lantas diberi berbagai aktivitas agar kemampuannya tersebut tumbuh melalui kursus, mengingat anak masih usia balita.

Senada dengan penuturan Rose, psikolog anak Agustina Hendriati mengatakan, orangtua seharusnya mengarahkan kemampuan anak tersebut dengan tepat. Psikolog yang menjadi pengajar di Universitas Atma Jaya ini mengatakan, sejatinya bakat muncul sejak anak masih dalam kandungan. ”Sebab, bakat terkait dengan perkembangan otak ketika masih dalam masa kandungan,” katanya.

Untuk itu, ketika hamil, ibu dapat melakukan berbagai hal yang dapat menstimulasi perkembangan otak bayi. Di antaranya dengan membacakan cerita atau sekadar mengajak bayi mengobrol. ”Penelitian menunjukkan otak bayi dapat merespons kondisi di luar, telinga bayi tersebut dapat mendegar apa yang ibu katakan,” sebutnya.
Atau bisa juga dengan mendengarkan musik atau menari.
Dilanjutkan Agustina, manusia sebenarnya memiliki dua jenis bakat. Yang pertama adalah bawaan dari lahir atau merupakan bakat yang diturunkan dari orangtua, atau pengaruh dari lingkungan. Ada anak yang sebenarnya memiliki bakat bermain musik, namun karena orangtua tidak mendorong, bakat itu pun lenyap begitu saja.

Sebaliknya, ada anak yang keluarganya tidak memiliki jiwa seni. Akan tetapi, karena pengaruh lingkungan, mungkin pergaulan, ditambah dukungan orangtua, bakat bermusik yang dimiliknya pun kian terasah dan menjadi potensi tersendiri.

”Pemunculan bakat memang tergantung pada stimulus yang diberikan orangtua,” kata Rose. Bakat yang dimiliki anak saat ini belum tentu menjadi eksistensinya kelak ketika dewasa. Namun, sudah merupakan kewajiban orangtua untuk menumbuhkan sekaligus mengembangkan bakat anak sejak dini. Makin dini anak menerima stimulasi, maka makin baik.

Orangtua juga dapat mengenalkan anak dengan berbagai benda edukatif yang dapat merangsang kemampuan motoriknya pula, yakni dengan cara mengamati dan meraba.

Ajak anak untuk berkreasi sesuai imajinasinya, beri kertas berwarna dan mintalah ia untuk mengguntingnya sesuai keinginan, lalu menempelkannya di buku gambar. Bisa pula dengan mengajak anak bermain pasir dengan menggunakan mainan yang dimiliki. Selama orangtua kreatif, ada banyak bahan yang dapat digunakan dan tidak mahal yang terdapat di sekitarnya.

Mengembangkan bakat anak, juga bisa dilakukan dengan mengajak si kecil bermain. Bukan permainan modern yang ada saat ini, seperti PlayStation misalnya. Melainkan ajak anak untuk bermain permainan tradisional yang banyak menuntutnya bergerak aktif. Seperti petak umpet, bermain drama, atau lompat tali.

”Orangtua juga dapat mengarahkan bakat anak, misalnya jika ingin anak suka membaca, beri ia buku cerita berwarna dan ajak bercerita bersama. Jadikan ini aktivitas yang rutin dengan membacakan cerita sebelum tidur contohnya,” papar Agustina. Demikian pula jika orangtua ingin me-numbuhkan kecintaan anak pada dunia seni, musik, atau melukis. Berikan buku gambar dengan pensil krayon atau ajak anak melihat ibu atau ayahnya berlatih musik.

Namun, tugas orangtua tidak berhenti sampai di situ. Setelah mengarahkan, orangtua pun berkewajiban untuk mendampingi sang anak dalam setiap aktivitasnya. Selain memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak, orangtua juga dapat mengetahui kemampuan mana yang lebih menonjol.

Tak lupa lemparkan pujian kepada anak ketika ia telah menguasai sebuah kebiasaan sekecil apa pun. Berikan pula pujian ketika ia menunjukkan hasil karyanya kepada Anda sebagai orangtua. Nah, ketika bakat anak telah mulai terlihat, giliran menyalurkannya dengan baik.

Anak bisa mengikuti kursus tari jika ia gemar bergoyang setiap kali didengarkan lagu. Kursus musik bisa jadi pilihan jika orangtua mengetahui minat anak di bidang ini. Boleh juga memasukkannya pada kursus matematika jika ingin kemampuannya di bidang ini semakin terasah dan berkembang.

”Jika belum terlihat kemampuan sebenarnya di bidang apa, jangan ragu untuk memintanya mengikuti kegiatan,” kata Rose. Di samping sebagai tes minat, juga menyalurkan energi anak pada kegiatan yang positif.

Perlu diingat, orangtua tidak seharusnya memaksakan kehendaknya kepada sang anak untuk melakukan apa yang diinginkan orangtua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar